Menu ✖

Mode Gelap
Kapolrestabes Palembang dan SCW Sumsel Perkuat Sinergi Bersama Aktivis dan Insan Pers, Teguhkan Komitmen Jaga Kamtibmas Opini Publik: Mengupas Pembangunan Badan Antariksa Di Biak Numfor, Harapan Dan Tantangan Demi Xpander, Mitsubishi Bakal Mengimpor Kembali Pajero Sport Buruh dan Mahasiswa di Yogyakarta Gelar Aksi Tolak RUU Omnibus Law

Uncategorized · 2 Sep 2026 05:31 WIB ·

Kasihan Anak-Anak Kita” MUHAMMAD TOHA: 8 Cara Mengajar Ini Bikin Mereka Lama Bisa Baca


 Kasihan Anak-Anak Kita” MUHAMMAD TOHA: 8 Cara Mengajar Ini Bikin Mereka Lama Bisa Baca Perbesar

Wartainsumsel.id | Palembang – Berdasar data terbaru Learning Poverty World Bank 2024-2025, 70% anak Indonesia usia 10 tahun tidak mampu membaca dan memahami teks sederhana.

Sementara hasil PISA 2022 yang dirilis OECD menempatkan Indonesia di peringkat 68 dari 81 negara. Skor kemampuan membaca Indonesia 371, jauh di bawah rata-rata OECD 476. Secara global, Indonesia masih masuk kelompok 5 terbawah dari 170 negara dalam survei literasi internasional.

Kondisi ini stagnan lebih dari 20 tahun. Padahal 2030-2045 Indonesia akan menghadapi bonus demografi.

Menanggapi hal itu, Muhammad Toha, S.Ag, Anggota DPRD Provinsi Sumsel Komisi V dan Dewan Pendiri Yayasan Rumah Baca Indonesia sekaligus penemu metode SB3 (Satu Bulan Bisa Baca) , menyampaikan keprihatinannya.

“Darurat literasi ini bukan karena kurang fasilitas. Tapi karena 8 penyebab anak sulit dan lama bisa baca masih diajarkan di kelas awal SD bahkan di TK,” tegas Toha, Selasa (1/9/2026).

8 Penyebab “SB6” = Sudah BerBulan-Bulan Belum Bisa Baca
Menurut Toha, 8 metode ini masih dominan dan justru menghambat:

1. Banyak Media
Kartu, video, hingga papan tulis. “Huruf _g_ di papan tulis sering ditulis mirip angka 9. Kalau dasar visualnya salah dari awal, proses belajar baca jadi jalan di tempat,” ujarnya.

2. Bergambar
Buku bergambar hanya menarik di awal. “Ditanya gambar dan tulisan DIPAN, dijawab anak RANJANG. Anak membaca gambar sesuai bahasa daerah, bukan membaca kata,” kata Toha.

3. Calistung Sekaligus
Baca, Tulis, Hitung diajarkan bersamaan. “Belajar baca itu seperti belajar sepeda. Menulis seperti motor. Berhitung seperti nyetir mobil. Masa belajarnya harusnya beda,” jelasnya.

4. Klasikal
1 guru untuk 30 anak. “Akibatnya yang cepat makin cepat. Yang lambat makin tertinggal karena harus ikut halaman teman,” ujarnya.

5. Saling Lepas
Huruf q, v, x jika bertemu vokal maupun konsonan sulit dibunyikan. “Seharusnya tidak dimunculkan dulu di tahap awal untuk pemula,” sarannya.

6. Menghafal Huruf A-Z
Anak hafal lagu A-Z, tapi tidak mengenal bentuk hurufnya. “Hafal nadanya, buta hurufnya,” kata Toha.

7. Mengeja
Kata _Jakarta_ dieja: j-a _ja_, k-a _ka_, tambah r _jakar_, t-a _ta_. “Ini ribet. Sama seperti belajar sepeda tapi disuruh hafal jari-jari, rantai, lampunya dulu,” ujarnya.

8. Melompat
Langsung ba, be, bi, bu, bo di hari pertama. “Anak dipaksa menghafal 5 vokal sekaligus. Itu terlalu berat untuk pemula,” tegasnya.

Toha tidak hanya mengkritik. Ia membuktikan lewat Metode SB3 (Satu Bulan Bisa Baca).
Prinsipnya: anak belajar membaca kalimat Bahasa Indonesia 15 menit per hari selama 30 hari. Fokusnya langsung ke kalimat, tanpa menghafal dan mengeja.

Metode ini sudah ia bawakan sebagai trainer di berbagai daerah. Mulai dari kabupaten/kota di Sumatera, Pulau Jawa, hingga Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.

Menurut Muhammad Toha, kunci menaikkan literasi nasional ada di pondasi.

“Literasi harus dibangun dari dasarnya. Yaitu dengan cara belajar baca yang tidak ribet, cepat, dan langsung bisa dipakai oleh anak,” pungkas Muhammad Toha Anggota Komisi V DPRD Provinsi Sumatera Selatan sekaligus Penemu Metode SB3 itu.

Artikel ini telah dibaca 23 kali

Baca Lainnya

Aksi Nyata, Peduli Masyarakat dan Lingkungan, HPCI Chapter Palembang Gelar Aksi Bagi Masker di Jalanan

8 Oktober 2026 - 09:56 WIB

Kebakaran Lahan 1 Hektare di Kertapati, Babinsa dan Satgas Karhutla Kodim 0418 Bergerak Cepat

8 Oktober 2026 - 07:51 WIB

BPPH Pemuda Pancasila Palembang Siap Berikan Bantuan Hukum Gratis bagi Masyarakat

7 Oktober 2026 - 19:33 WIB

Dipimpin Kades Budiman, Warga Lubuk Tampui PALI Bentuk Masyarakat Peduli Api (MPA) Cegah Karhutla

7 Oktober 2026 - 14:15 WIB

Kemuning Bungkam Sako pada Turnamen walikota Palembang Cup.2026

7 Oktober 2026 - 14:09 WIB

Satgas Karhutla Kodim 0418/Palembang Patroli di Sematang Borang, Pastikan Nihil Titik Api

7 Oktober 2026 - 13:39 WIB

Trending di Uncategorized