Wartainsumsel.id | Palembang, – Anggota Komisi V DPRD Provinsi Sumatera Selatan, M. Oktafiansyah, ST., MM., menyoroti masih minimnya pengalaman kerja lulusan SMK di Sumsel. Menurutnya, hal ini menjadi salah satu penyebab lulusan SMK belum sepenuhnya siap diserap dunia industri.
“Masalah utama SMK kita saat ini adalah gap (Jarak) antara materi di kelas dengan kebutuhan di lapangan. Anak-anak kita lulus dengan teori, tapi minim jam terbang dan pengalaman praktik di industri,” ujar Oktafiansyah saat ditemui di DPRD Provinsi Sumatera Selatan, Selasa (14/07/2026).
Dorong Inovasi Dinas Pendidikan Sumsel
Untuk menjawab persoalan itu, Oktafiansyah mendorong Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan segera menghadirkan inovasi baru. Salah satunya dengan memperkuat program link and match antara sekolah dengan dunia usaha dan dunia industri atau DUDI.
“Kurikulum harus dinamis. Dinas Pendidikan perlu berinovasi agar SMK tidak hanya jadi tempat belajar, tapi juga tempat mencetak tenaga kerja yang siap pakai,” tegasnya.
Perkuat Kunjungan Industri Saat Sekolah
Oktafiansyah juga menekankan pentingnya program kunjungan industri yang rutin dilakukan saat siswa masih duduk di bangku sekolah.
“Kunjungan industri jangan hanya seremonial. Harus ada follow up berupa praktik kerja lapangan, magang, dan sertifikasi kompetensi yang harus lebih intensif lagi. Dengan begitu siswa kenal budaya kerja, alat, dan standar industri sejak dini,” jelasnya.
Menurutnya, dengan seringnya siswa turun langsung ke pabrik dan perusahaan, mental dan keterampilan mereka akan lebih terasah sebelum lulus.
Buka Peluang Kerja ke Luar Negeri Lewat Kemigran
Selain pasar dalam negeri, Oktafiansyah mendorong SMK di Sumsel juga menyiapkan lulusannya untuk bekerja di luar negeri.
Ia memberikan saran kerja sama antara Dinas Pendidikan dengan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia.
“Kerja sama dengan Kementerian Migran ini peluang bagus. Banyak negara butuh tenaga terampil dari SMK seperti perhotelan, otomotif, las, dan perawat. Tapi kita harus pastikan mereka berangkat secara legal, aman, dan punya kompetensi, dan hal seperti ini pun sudah dilakukan diluar Sumatera Selatan contohnya Jawa dan Kalimantan”, kata Oktafiansyah.
Ia berharap ke depan SMK di Sumsel tidak hanya jadi pencetak lulusan, tapi juga jembatan menuju pekerjaan yang layak, baik di dalam maupun luar negeri.
“Kalau SMK kita kuat, pengangguran di Sumsel bisa kita tekan. Itu tugas kita bersama antara DPRD, Dinas Pendidikan, dan industri,” tutupnya.(Irfan)










